Perjuangan Berliku Menuju Universitas (Bagian 1)

Jalur masuk ke universitas negeri ketika zamannya saya (2012) ada 3 jalur, yaitu SNMPTN Undangan, SNMPTN Tulis, dan Ujian Mandiri. SNMPTN Undangan merupakan pola masuk PTN secara Nasional menggunakan nilai raport semester 3-5. Sehingga untuk jalur ini siswa tidak perlu mengikuti tes tertulis. Cukup dengan nilai rapor, bagi yang memang nilainya mumpuni dapat di terima di PTN. SNMPTN Tulis merupakan pola masuk PTN dengan jalan harus mengikuti tes Ujian Tulis yang diselenggarakan secara Nasional. Sementara itu, Ujian Mandiri merupakan pola masuk PTN yang diselenggarakan oleh masing-masing PTN.

Pendaftaran yang dibuka paling awal adalah SNMPTN Undangan. SNMPTN Undangan ini dibuka jauh sebelum kelulusan Ujian Nasional, sekitar bulan Februari 2012. Saya pun tak mau ketinggalan untuk mengikuti jalur tersebut. Untuk mengikuti jalur ini, setiap siswa harus menyetorkan nilai rapornya secara online. Namun, untuk menyetorkan nilai tersebut diwakili oleh pihak sekolah. Ketika itu, SNMPTN Undangan juga dibagi lagi menjadi 2 jalur lagi, yaitu jalur regular dan jalur beasiswa Bidik Misi. Untuk jalur regular setiap pendaftar diharuskan membayar biaya pendaftaran dengan uang sendiri. Sedangkan untuk jalur beasiswa Bidik Misi biaya pendaftaran sudah ditanggung pemerintah. Saya sendiri mengikuti jalur Bidik Misi. Bidik Misi sendiri merupakan kependekan dari Biaya Pendidikan (Kuliah) Mahasiswa Miskin Berprestasi. Sehingga setiap siswa yang mengikuti jalur ini harus memiliki prestasi baik di kelas.

SNMPTN-2012

Jalur SNMPTN Undangan hanya memperbolehkan memilih maksimal 2 PTN dengan masing-masing PTN hanya boleh memilih 2 prodi. Ketika itu saya bingung mau milih PTN mana dan prodi apa…hehe. Saat itu saya belum memiliki pilihan PT dan prodi yang benar-benar “sreg” di hati. Ibu saya sendiri tidak pernah ikut campur sama sekali dengan pendidkan saya. Ibu saya tak pernah ingin tau bagaimana pendidikan saya baik atau buruk sejak SD hingga SMA. Karena memang Ibu saya itu “Orang zaman dulu, Wong Biyen” alias kurang perpendidikan, wong SD saja tidak tamat…hehee. Sehingga ibu saya tidak memiliki perhatian sama sekali dengan pendidikan saya. Akibatnya saya seperti jalan sendiri dan diberi kebebasan penuh untuk menentukan masa depan saya:D. Meskipun demikian saya malah merasa bebas dan enjoy. Sebab tidak dibebani dengan keinginan-keinginan orang tua dalam belajar.

Akhirnya saya mencari tahu kesana kemari PTN mana dan prodi apa yang cocok dan sreg dengan hati saya, mulai dari baca-baca buku, browsing hingga diskusi dengan teman. Akhirnya saya memutuskan untuk memilih di jalur pendidikan saja alias keguruan. Ketika mengisi pilihan PTN saya memilih Unnes sebagai pilihan utama dan UNS sebagai pilihan kedua. Di masing-masing PTN tersebut saya memilih prodi Pendidikan Matematika sebagai pilihan pertama dan Pendidikan Fisika sebagai pilihan kedua. Ketika itu saya sangat berharap bisa diterima di Unnes. Nama Unnes sudah begitu mendarah daging di telinga saya ketika itu dibanding UNS. Nama UNS masih sangat asing bagi saya ketika itu..hehe. Sehingga harapan untuk diterima di Unnes begitu besar di hati saya. Saya hanya tahu dari teman-teman kalau biaya kuliah di UNS katanya lebih murah di banding yang lain.

logo unnes baru

logo baru uns

Tawaran beasiswa Turki

Ketika hari-hari menunggu pengumuman SNMPTN Undangan, tiba-tiba di sekolah saya ada tawaran beasiswa luar negeri, tepatnya beasiswa kuliah di Turki. Ketika itu guru Bahasa Indonesia saya, Ibu Sri Ratnawati, S.Pd menawarkan beasiswa kuliah di Turki kepada saya dan teman-teman saya yang selanjutnya disebarkan ke semua kelas XII. Saya pun menyambut baik tawaran tersebut dengan mengikuti seleksi. Guru saya menawarkan beasiswa tersebut sekitar awal bulan April 2012.

Oh ya, perlu diketahui juga nie. Tawaran beasisiwa Turki ini datang ke sekolah saya bukan tanpa sebab. Beberapa bulan sebelumnya—awal tahun pelajaran 2011/2012 atau ketika kelas XII—teman saya mengikuti Indonesia Science Project Olympad (ISPO) yang diselenggarakan oleh Yayasan Pasiad Indonesia. ISPO tersebut diikuti oleh 2 teman saya dari kelas XII.IPA.1 yaitu Muhammad Erfan Apriyanto dan Akhmad Riyanto. Di babak penilaian awal Karya ilmiah kedua teman saya lolos 10 besar, sehingga harus mengikuti babak selanjutnya yang diadakan di Balairung UI Depok. Tetapi di babak sepuluh besar tersebut, mereka berdua belum mendapatkan juara.

logo pasiad

Meskipun mereka tidak memperoleh juara di ISPO, saya sangat salut sama mereka berdua. Sebab ketika mereka masih kelas XI mereka berdua pernah meraih prestasi gemilang dalam bidang yang sama. Mereka pernah meraih juara pertama Lomba Karya Tulis Ilmiah tingkat Jawa-Bali yang diselenggarakan di Kota Apel, Malang, Jawa Timur. Sungguh hebat mereka berdua. Nah ketika mereka berdua yang didampingi guru Bahasa Indonesia saya—Bu Ratna–sedang mengikuti lomba ISPO di UI, mereka mendapatkan tawaran beasiswa kuliah di Turki dari perwakilan Yayasan Pasiad Indonesia. Selanjutnya Bu Ratna menawarkan beasiswa tersebut di sekolah saya.

Kembali ke pembahasan utama yaa…hehee. Beberapa minggu kemudian tim seleksi beasiswa Turki datang ke sekolah saya. Saya dan teman-teman saya yang tertarik dengan beasiswa tersebut mengikuti tes seleksi tahap I di sekolah. Puluhan siswa kelas XII baik dari jurusan IPA maupun IPS antusias mengikuti seleksi tersebut. Seleksi tersebut meliputi seleksi tes tertulis dan juga wawancara. Berikut sedikit petikan—lainnnya lupa, hehe—pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika wawancara,

  1. Apa yang Anda ketahui tentang Turki?
  2. Apa ibukota Turki?
  3. Ceritakan seperti apa kepribadianmu?
  4. Ceritakan alasan yang membuat kami layak menerima Anda sebagi penerima beasiswa Turki?

Leave a Reply