Perjuangan Berliku Menuju Universitas (Bagian 12)

Ke Kantor Pusat Pasiad Indonesia

Setelah Saher abi menyelesaikan urusannya di KB3S, kemudian kami kembali ke Jakarta. Namun, kami tidak langsung pulang ke dershane UNJ, tetapi saher abi mengajak saya ke Kantor Pusat Pasiad Indonesia yang terletak di Jalan Warung Buncit Raya No. 2, Jakarta Selatan, Indonesia. Ketika itu kami menggunakan anggkutan umum dan dilanjutkan menggunakan busway. Dalam perjalanan menuju Kantor Pasiad, saya berbincang-bincang banyak tentang berbagai hal dengan Saher abi. Beliau menunjukkan paspornya kepada saya. Paspor yang dibuat di negara asal beliau, Turkmenistan. Paspornya cukup unik dengan dihiasi gambar-gambar hasil kebudayaan Turkmenistan. Beda dengan paspor dri Indonesia yang telah saya buat, se-der-ha-na:D.

Kami berdua sampai di Kantor Pusat Pasiad Indonesia sore hari menjelang magrib, sekitar pukul 17.30 WIB.. Di kantor itu, saya melihat pengurus-pengurus besar Pasiad Indonesia yang menangani berbagai urusan Pasiad, termasuk menangani sekolah-sekolah mitra kerja Pasiad yang tersebar di beberapa kota di Indonesia. Sambil menunggu urusan Saher abi selesai, saya duduk-duduk di ruang tamu Kantor Pasiad dan bermain-main dengan laptop. Di ruang tersebut saya melihat banyak gambar-gambar berbagai tempat-tempat menarik di Turki tertempel di sudut-sudut dinding, termasuk gambar masjid biru sebagai ikon negara Turki.

logo pasiad

Logo Pasiad Indonesia

Menjelang adzan magrib berkumandang, saya dibelikan nasi Padang oleh Saher abi. Woow, nikmatnya. Selain itu, petang itu Saher abi juga mendapatkan 2 jilid buku baru tentang Sirah Nabawiyah dari Pengurus Pusat Pasiad Indonesia. Buku tersebut berjudul “Cahaya Abadi, Muhammad SAW, Kebanggaan Umat Manusia” karangan ulama kharismatik Turki, yaitu Muhammad Fethullah Gulen. Buku tersebut cukup tebal, satu jilid sekitar 500 halaman lebih atau jika dijadikan satu jilid akan menjadi 1000 halaman lebih. Buku tersebut merupakan buku yang ketika itu—Juni–belum lama di terbitkan. Buku tersebut cetak bulan April 2012. Tanpa pikir panjang saya segera membuka buku jilid 1 dan membacanya.

buku sirah nabawiyah

Buku Sirah Nabawiyah

Setelah sholat magrib berjamaah, saya diajak naik mobil sama orang-orang Turki dan entah mau ke mana. Saat itu saya tidak tau, yang penting saya diajak jalan-jalan gratis sama bule-bule….hehee. Malam itu mobil yang saya tumpangi berjalan menuju daerah Matraman menyusuri jalan-jalan ibukota dan gemerlapnya gedung-gedung pencakar langit yang begitu menawan 😀 . Ternyata eh ternyata kami berhenti di sebuah rumah makan elit, namanya Rumah Makan “Abu Nawas” yang terletak di dekat jalan tol Matraman. Di tempat itu ternyata sudah banyak orang-orang yang berkumpul untuk makan bareng. Mereka terdiri dari pembesar-pembesar Pasiad dan juga mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di dershane. Baik itu mahasiswa UI ataupun yang lain. Salah satu mahasiswa yang datang ketika itu berasal dari fakultas kedokteran UI yang hebat 😀 .

Malam itu pembesar-pembesar Pasiad—yang tentunya tebal banget dompetnya…hehe—mentraktir semua tamu yang datang untuk makan besar. Menu makanan yang tersedia begitu beragam, unik, dan tentunya nikmat di lidah. Baik itu ayam goreng, nasi goreng, soto, dan seabrek makanan khas arab yang saya sendiri tak tahu namanya. Selain itu, minuman yang tersedia pun membuat lidah ini semakin liar. Berbagai jenis minuman jus tersedia, tinggal pilih dan pesan. Semuanya terpampang di depan mata saya yang membuat saya semakin tak tahan untuk segera melahapnya 😀 . Semuanya bebas mau makan berapa porsi, pokoknya sampai perut buncit pun tidak akan dilarang…hehee. Alhamdulillah, baru saja makan nasi padang di Kantor Pusat Pasiad Indonesia, malam itu saya masih diberi nikmat yang tek terhingga oleh Allah SWT dengan makan besar.

Setelah makan malam selesai saya sebenarnya berniat kembali ke dershane UNJ. Akan tetapi Saher abi tidak mengizinkan. Beliau mengajak saya untuk istirahat atau menginap di Depok saja, tepatnya di Rumah milik Omar abi. Beliau adalah penanggung jawab seluruh dershane yang tersebar di berbagai kampus di Indonesia. Malam itu sekitar pukul 22.00 WIB, kami melaju ke Depok mengendarai mobil Picanto milik Omar abi. Ternyata rumah Omar abi berada di Perumahan Pesona Kahyangan Depok, Jawa Barat, nama rumahnya BC5. Sebuah perumahan elit milik orang-orang berduit..hehee. Rumahnya bagus banget, cantik, unik, eksotik, dan asri membuat saya betah berlama-lama di dalamnya…wkwkw. Setelah sholat isya berjamaah, saya istirahat—tidur–hingga pagi 😀 .

Leave a Reply